Cerpen ini tidak ada maksud dan tujuan tertentu, tidak pula ingin menyinggung pihak tertentu. Hanya ingin menuangkan hobby. Menerima kritik dan saran...



Mutiara yang Hilang Kembali Pulang

Rambut yang bergelombang terurai dengan bebasnya disapu desiran angin yang membuat helai demi helai rambut gadis tersebut melambai-lambai dan menggugah hati seorang pemuda tampan dengan masih melekatnya keturunan darah biru yang terlihat nyata pada diri pemuda tampan tersebut. 
Tanpa memperdulikan panggilan pamannya, pemuda tampan tersebut terus memandangi kecantikan gadis dengan rambut bergelombang itu. “Ali, Ali Muhammad Sodiq..Assalammualaikum anak muda!”, sambil menepuk pundak pemuda tampan itu untuk mengejutkan keponakannya. “Waalaikumsalam paman, maafkan Ali paman. Ali tadi sedang melihat sesuatu”, jawab Ali dengan senyuman yang membuat rona wajahnya memerah. “Sesuatu atau seorang gadis cantik?”, sambil merangkul keponakan kesayangannya. “Paman..”, teriak Ali sambil menundukkan kepalanya sebab malu karena tindakannya sudah tercium oleh pamannya. Memang benar, sejak satu jam yang lalu Gozali Nur Rahman yaitu paman Ali memperhatikan tingkah lucu keponakannya yang sedari tadi tertegun kagum melihat kecantikan seorang gadis yang tengah duduk dibebatuan tepi pantai Selatan. “Sudahlah Ali, paman itu tau. Itu kamu dicari sama gurumu”, kata Gozali kepada Ali. “Kakek, dimana paman?”, kata Ali dengan penuh keheranan. Sebab tidak biasanya guru yang biasa Ali panggil dengan sebutan kakek memanggilnya dijam-jam segitu. Karena latihan rutin yang biasa Ali lakukan dengan gurunya biasa dilakukan pukul 12 malam. “Di sanggar sebelah Timur”, jawab Gozali. “Sanggar sebelah Timur”, bisik Ali dalam hati.
Ali pun segera berlari menuju sanggar Timur yang dimaksudkan oleh pamannya. Sambil berlari, terlintas dibenaknya wajah cantik dari gadis dengan rambut bergelombang yang dilihat di tepi pantai Selatan tadi. Seakan tersihir oleh kecantikan dari gadis tersebut, Ali tidak menyadari bahwa dirinya malah sampai di ujung sanggar Timur, tepatnya sebuah rumah yang sudah tua yang berdiri sejak jaman kerajaan. “Ya ampun, kok bisa”, desah Ali sambil mengusap peluh dikeningnya. Tiba-tiba Ali dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang tengah menyenandungkan alunan surat yang disebutkan di dalam Al-Quran. Ali sangat kagum sebab surat yang disenandungkan perempuan tersebut adalah surat Ar-Rahman. Ali pun segera mencari asal dari suara perempuan yang menyenandungkan surat Ar-Rahman tersebut. Hanya rasa takjub yang dapat Ali rasakan saat itu, saat wajah cantik yang dilihatnya wajah yang sama yang dia lihat di tepi pantai Selatan.
Perasaan dan hati Ali tengah diaduk dengan rasa kagum dan heran. Tiba-tiba Ali dikejutkan dengan suara yang sangat seram dan mendesah yang memanggil namanya. “Ali..”, suara misterius yang memanggil nama Ali dari belakang. “Tenang Ali, itu hanya halusinasi”, gumam Ali dengan suara sangat lirih. Tiba-tiba ,“bagaimana mungkin halusinasi Ali Muhammad Sodiq!”, jawab suara misterius. “Aduh sakit ”, teriak Ali karena telinga kirinya dijewer. “Eh, kakek. Kirain”, kata Ali. “Hantu!”, jawab guru Ali tanpa menunggu kelanjutan kata Ali. “Bukan kek, Ali kirain penyanyi dangdut, sebab suara kakek serak basah seksi gitu”, jawab Ali sambil meringis menahan sakit akibat jeweran gurunya itu. “Sudahlah, kakek kira kamu pria tampan yang sangat pemberani. Tapi, kamu hanyalah pria tampan saja”, jawab guru Ali dengan nada dan raut muka sedikit menyindir. “Apa maksud kakek. Ali itu pemuda tampan dan pemberani”, tebas Ali. “Kalau menaklukan hati seorang wanita bahkan gadis sekalipun, berani?”, bisik guru Ali. Tanpa memperdulikan jawaban Ali, kyai Abdul Rahman Saleh atau guru Ali, bergegas menarik tubuh pemuda tampan itu untuk duduk di depan rumah tua. “Aku tau apa yang sedang kau pikirkan muridku. Lebih baik kamu mengurungkan niatmu dan menutup hatimu untuk menyukainya. Karena kamu pasti tau, jawaban apa yang akan diberikan oleh abimu.”, ucap kyai Abdul kepada Ali. Tanpa menjawab perkataan dari gurunya, Ali hanya mengangguk dan merupakan sebuah isyarat bahwa Ali paham dengan perkataan gurunya tersebut.
Namun, ada hal yang sangat mengusik ketenangan Ali, dan sebuah pertanyaan pun terlontar dari mulutnya. “Tapi guru, apa gadis itu beragama..”, perkataan Ali belum usai tapi kyai Abdul langsung memotongnya dengan anggukkan sebuah isyarat bahwa apa yang akan dikatakan Ali sebuah kebenaran. Tak disangka, obrolan mereka terus berlangsung sampai larut malam. Terdengar suara yang lantang yang memanggil nama Ali. Ali segera bergegas menghampiri asal suara tersebut. Ternyata suara tersebut adalah suara kak Abi Mutakhin Jamal kakak kedua Ali. Kak Abi memanggil Ali karena kak Abi akan keluar dengan istrinya dan rumah tidak ada yang menjaga.
Keesokan harinya, karena tengah libur Ali pun berencana untuk jalan-jalan ke pantai Selatan. Tiba- tiba ada seorang gadis yang menabaraknya. “Eh, maaf mas”, seorang gadis menabrak Ali dari belakang. Ali sangat terkejut dan tertegun sejenak, bukan karena kesal ditabrak gadis tersebut. Melainkan tentang siapa gadis yang menabraknya, dan gadis yang menabraknya ialah gadis kemarin yang diam-diam dia kagumi. “I..I ya tidak apa-apa kok”, ucap Ali sambil terbata-bata. “Emang sakit banget ya, sampai mas gagap gitu jawabnya?”, ucap gadis cantik itu keheranan. “Tidak”, sahut Ali. “Kenalin, aku Masitoh Darma Putri Aisyah”, kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya ke Ali. “Maaf”, tolak Ali sambil menyatukan tangan di depan dada. “Iya, tidak apa-apa kok”, sahut gadis cantik itu karena sudah paham dengan maksud Ali. “Namaku Ali Muhammad Sodiq”, ucap Ali kepada gadis cantik itu. “Salam kenal Ali. Kamu pagi gini kok udah ke pantai, mau nyari ikan terdampar juga?”, tanya Darma kepada Ali. “Tidak, aku hanya sedang jalan-jalan”, sahut Ali sambil tersenyum. “Sebab aku kalau pagi ke pantai mau cari ikan yang terdampar buat aku pelihara dan kalau ikannya jelek biasanya sih aku makan”, ucap Darma. Ali hanya bisa tersenyum lebar mendengar ucapan lugu dari bibir mungil Darma. Darma pun menyambut senyuman Ali dengan senyumnya yang manis. Tak sengaja Ali memperhatikan wajah Darma saat tersenyum, dan seketika jantung Ali berdebar dengan kencang. Tanpa memperdulikan ucapan gurunya semalam. Ali hanya bisa kagum dengan kecantikan Darma. “Kamu Hindu?”, tanya Ali kepada Darma. Darma hanya menjawab dengan anggukkan isyarat bahwa apa yang diucapkan Ali itu benar, bahwa Darma memang beragama Hindu.
Tak disangka Ali dan Darma mulai berteman sejak itu dan mereka mulai saling nyaman antara satu dengan yang lainnya. “Darma, dulu aku pernah mendengarkan kamu menyenandungkan surat Ar- Rahman. Kenapa?”, tanya Ali sambil keheranan. “Aku memang beragama Hindu, Ali. Tapi, aku sangat menyukai Al-quran. Sebab jika aku menyenandungkan ayat di dalam Al-quran atau mendengarnya hatiku sangat damai dan tenang. Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menyinggung agamamu”, ucap Darma dengan lantang. Ali hanya menjawab Darma dengan senyuman.
Tanpa disadari keduanya, perasaan mereka berdua semakin dalam antara satu dengan yang lainnya. Namun, sebuah bencana bagi Ali. Karena abi Ali mengetahui bahwa diam-diam anak bungsunya itu menyukai gadis cantik yang mengikat diri dengan agama non Islam. Abi Ali sangat tidak menyukainya dan meminta supaya Ali melanjutkan kuliah S2 ke luar negri, yaitu ke Brunei. Dengan berat hati Ali menuruti permintaan dari abinya, dan abinya tidak mengijinkan Ali untuk berpamitan ke Darma gadis yang sangat dicintainya itu.
Sudah setahun lebih Ali menuntut ilmu di Brunei, namun perasaannya ke Darma belum juga hilang bahkan semakin dalam dan Ali mulai merindukan gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu. Saat Ali tengah memilih-milih buku di sebuah toko buku ternama di Brunei, tidak sengaja Ali menabrak seorang gadis dengan tinggi badan yang persis dengan Darma. Namun, jelas itu bukanlah Darma. Sebab gadis itu memakai cadar dan gamis berwarna merah maron, warna kesukaan Darma. Entah apa yang mengusik hati Ali, Ali mencoba meminta nomer whatshap gadis bercadar itu. Tanpa disangka, gadis bercadar itu memberikan nomer whatshapnya ke Ali. Sesampainya di rumah, Ali terus memikirkan gadis bercadar itu dan mencoba menghubunginya besok pagi. Malamnya Ali melaksanakan sholat tahajud dan istikhoroh.
Paginya, Ali bangun dengan suasana hati yang tidak menentu. Dikarenakan setelah melaksanakan sholat tahajud dan istikhoroh dia memimpikan gadis bercadar itu merupakan sebuah pertanda dari Tuhan bahwa gadis bercadar itulah pilihan yang tepat untuknya. Setelah menghubungi gadis bercadar tersebut, Ali segera menanyakan alamat rumah gadis itu dan besoknya Ali segera membawa abi dan kedua kakak laki-lakinya ke rumah gadis bercadar tersebut. Ali bermaksud untuk melamar gadis yang baru saja dia temui dan dia kenal. Bahkan Ali belum mengetahui nama gadis tersebut. Namun, sebuah pertanda yang aneh yang ditunjukkan oleh-Nya. Hati Ali sangat mantap dengan keputusannya untuk menikahi gadis bercadar itu.
Selang seminggu, Ali dan gadis bercadar itu memutuskan untuk menikah dan pernikahan mereka langsungkan dikediaman Ali di daerah Yogyakarta. Ali pun sudah tidak memperdulikan perasaanya ke Darma, dan dia sangat yakin bahwa istrinya adalah mutiara terindah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Malamnya, karena Ali dan gadis bercadar itu sudah sah, Ali pun meminta sang gadis bercadar itu untuk membuka cadarnya. Sang gadis pun menurut dan melepaskan cadarnya. Ali sangat takjub akan kecantikan gadis itu dan meneteskan air mata karena terharu. Sebab kecantikan gadis itu sama dengan kecantikan gadis yang dia temui satu tahun lalu. Ali sangat bingung dan senang, karena istrinya adalah Darma cinta pertama yang sekarang akan menjadi cinta terakhirnya. Darma pun menceritakan bagaimana dia bisa menjadi mualaf. Ali sangat terharu dan kagum dengan cerita yang diceritakan oleh Darma, sekarang Ali memanggil Darma dengan sebutan umi Aisyah. Panggilan sayangnya untuk istri sahnya. Mutiara terindah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

                                                       


Komentar